Ini
disadur dari harian Jawa Pos, tulisannya Mr Dahlan Iskan, publik figur paling
asik di Jatim. Menyadur ini mengingat bahwa sebentar lagi proyek prestisiusnya
bakal diresmikan, yaitu Jatim Expo, sebuah gedung pameran yang luar biasa asik,
dari desainnya, dari letaknya, pun dari proses pengerjaannya yang a la
pengerjaan Tangkuban Perahu atau Candi Sewu. Atau sama dengan kelakuan
mahasiswa yang hobi SKS. Ha ha ha. Nggak tau kenapa kok Mr. Dahlan Iskan dan
teman-teman berencana meresmikan Jatim Expo pada 7 Desember 2006 ini, notabene
tinggal 3 hari lagi. Halah!!
Tapi
you guys mungkin bisa baca dari artikel yang ane sadur dibawah ini. Read it,
get the spirit....
Senin,
06 Nov 2006,
Email
dari RRT (4-Habis)
Belajar
Bonek dari Daqing
Dua
hari yang lalu, saya ke Daqing (lagi!). Satu kabupaten terpencil penghasil
minyak mentah terbesar di RRT. Kali ini saya mendampingi seorang pejabat tinggi
dari Jakarta. Dia ingin belajar bagaimana RRT yang bukan negeri anggota OPEC
(negeri pengekspor minyak) bisa punya produksi minyak lebih besar daripada Indonesia
yang anggota OPEC. Beliau memang baru menghadiri satu acara bersama Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Shanghai (presiden kemudian ke Nanning dan
kami ke Daqing). Presiden ke wilayah RRT paling selatan dan kami ke wilayah RRT
paling utara.
Kita
memang prihatin karena sejak lebih dari lima tahun terakhir, produksi minyak
mentah kita menurun terus. Kini tidak sampai 1 juta barel / hari. Maka harus
dicari akal agar produksi itu naik kembali, tanpa misalnya, menunggu
investasi-investasi besar yang biasanya perlu waktu lama.
Di
Daqing, kita memang bisa belajar banyak. Terutama mengenai tekad. Kalau tekad
tidak kuat, tujuan tidak akan bisa berhasil. Kalau menunggu kemampuan terus,
kita tidak akan pernah mampu mewujudkan apa pun. Tekad, semangat, dan
kesungguhan. Itu yang perlu lebih dulu.
Ini
yang sebenarnya ada di balik filsafat bonek, yang kemudian disalahartikan
menjadi negatif ketika kerusuhan suporter Persebaya selalu terjadi. Peristiwa
10 November adalah bonek. Menyatakan kemerdekaan Indonesia adalah bonek. Dan
membangun Gedung Expo Jatim di Surabaya, he he, adalah juga bonek! Bonek yang
asli.
Tahun
lalu saya juga ke Daqing. Waktu itu mendampingi bupati Bojonegoro yang bakal
kebanjiran minyak, bupati Lamongan, dan ketua DPRD Jatim. Dalam setahun ini,
perubahan sudah sangat mencolok. Kini sudah jadi sebuah jalan lingkar kota, dua
arah yang dipisahkan taman yang luas, yang masing-masing arah terdiri atas tiga
lajur. Gedung-gedung tinggi juga sudah tambah banyak. Padahal, kabupaten itu
berada di Provinsi Heilongjiang yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi
seperti Shanghai, Shenzhen, atau Beijing.
Kini
juga sudah jadi gedung memorial hall yang besar, empat lantai, dan berada di
lahan satu hektare. Gedung itu dibangun untuk mengenang seseorang yang amat
berjasa atas ditemukannya minyak di Daqing pada 1952. Dia bukan seorang tokoh
nasional atau pemimpin politik. Dia seorang buruh biasa. Di sinilah terjadi:
buruh biasa, namun berjasa, dibikinkan gedung peringatan yang megah.
Di
dalamnya penuh diorama dan foto-foto yang memperlihatkan perjalanan hidup si
buruh. Namanya Wang Jingxi. Dia mendapat gelar "manusia besi" karena
kerja kerasnya yang melebihi buruh-buruh minyak yang lain. Waktu itu, sebagai
pendatang, Wang tinggal di rumah seorang nenek miskin di Daqing. Saking
kerasnya kerja Wang, sampai-sampai si nenek kasihan. Lalu memberi nasihat: Wang,
kamu ini bukan besi. Kamu harus istirahat dan makan yang cukup! Tapi, Wang
tetap saja kerja membaja. Sejak saat itulah dia dikenal sebagai Wang, si
manusia besi. Dia ternyata bonek besi!
Riwayat
Daqing adalah riwayat bonek. Waktu itu tidak ada teknologi perminyakan. Daerah
Daqing juga amat terpencil. Ahli perminyakan juga tidak punya. Apalagi ahli
seismic dan drilling. Cuaca pun lagi buruk: musim salju. Namun, RRT lagi butuh minyak.
Pesawat tempur, tank-tank, dan truk tentara, semua tidak bisa dijalankan. Padahal,
ancaman perang terus memuncak.
Maka
pimpinan nasional, saat itu Mao Zedong, minta agar dalam waktu sekejap
dikerahkan 30 ribu orang dari seluruh negeri ke Daqing. Di mana itu Daqing
tentu tidak banyak yang tahu. Bahkan, nama Daqing sendiri belum ada. Maka
dengan kereta api dan jalan kaki, 30 ribu orang didatangkan ke padang belantara
itu. Ada yang datang dari daerah yang jauhnya 5.000 km. Seperti Wang sendiri.
Waktu itu Wang berumur 14 tahun. Dia tinggal di suatu desa di Provinsi Ganshu
dekat Xinjiang. Dia ikut berangkat karena terbakar semangat cinta tanah air.
Tiba
di padang sauna itu, masing-masing membuat grup mencari minyak. Lokasinya agak
ngawur. Sumur pertama digali oleh Wang dan kelompoknya. Gagal. Sumur kedua
dikerjakan. Juga gagal. Salju kian tebal. Kedinginan luar biasa menyiksa. Baru
ketika di sumur ketiga, Wang menemukannya. Minyak muncrat dengan kerasnya:
namun muncratan itu harus segera diatasi. Kalau tidak, bisa seperti lumpur
Lapindo. Wang tidak berpikir panjang. Dia langsung terjun ke sumber minyak itu
untuk menutupnya. Yang lain kemudian mengikuti. Maka ramai-ramailah orang menutup
sumber itu dengan badan tenggelam di dalam lumpur minyak. Setelah ditutup,
barulah minyak dikendalikan dan dialirkan.
Orang-orang
lantas berpesta. Berhasil. Pesta besar, dalam bahasa Mandarin disebut Da Qing!
Maka jadilah kawasan baru dengan penduduk awal 30 ribu orang itu menggunakan
nama Daqing.
Kini,
tempat tidur Wang yang reot, bajunya yang kumal, topinya yang lusuh, dan
peralatan pengeborannya yang serba manual diabadikan di gedung itu. Pada umur 56
tahun, dia sakit kanker perut. Lalu sembuh. Lalu meninggal.
Kemauan
adalah nomor satu. Tekad juga nomor satu. Semangat juga nomor satu. Yang
lain-lain menyusul. Ini mungkin agak kuno. Tapi masih sering mujarab sebagai
resep. Terutama bagi siapa saja yang masih merasa miskin. Seperti, mestinya,
kita Indonesia
ini.
Ada satu pepatah yang diucapkan Wang yang kemudian ditempel di gedung itu:
"Semua ini pada mulanya tidak memenuhi syarat. Kitalah yang membuatnya
memenuhi syarat."
Sering
kita mencari syarat dulu. Sampai kemudian keburu ketinggalan dan ketinggalan
lagi.
Comments