« Mocca Flavour's Burp : Having a Bad Day | Main | Ikhwal Patung Polisi dan Polusi »

Tindisen, nina bobok yang menyeramkan

Tindisen orang Surabaya bilang, tindihen orang Magelang bilang. Adalah dua istilah yang sama makna. Merupakan kejadian alami [yang sampai sekarang belum ketahuan penyebab pastinya] dimana kita merasakan sebuah impian, atau seolah-olah kejadian yang biasanya menyeramkan, membuat kita seoalah-olah ditindih, dipiting, dikejar-kejar, pokoknya semua yang nggak enak, dan menakutkan. Kalau meminjam istilah temanku, layaknya dipukuli orang satu RW dan kita tak bisa membalas sama sekali, sometimes even worst. Dan parahnya lagi saat kejadian itu diri kita jadi begitu tidak berdaya, even just to breath. Duh...

Seperti tadi pagi habis sahur, si neng Kila nggak mau tidur dari jam 02.00 sampai pagi pertengahan sahur. Setelah dininabobokkan dengan cara dipangku, dinyanyiin lagu bersuara fals dari bapaknya, dengan kepala rebah di lutut, lalu digoyang-goyang, akhirnya si anak cantik ini terlelap walau dengan susah payah. Pindah ke kamar atas si neng masih tertidur pulas juga, untunglah. Tinggal sekarang bapak sama emaknya yang ngantuk berad setelah melekan cukup lama. Giliran tiba kesempatan buat sekedar merebahkan diri, tengkurep di sebelah si neng, dalam hitungan detik rasanya sudah mulai lelap. Diiringi lagu lullaby dari CD favorit Kila, All that's lullaby songs, rasanya tenteram, pada awalnya.  Nggak lama kemudian lagunya kok terasa aneh, antara terlelap dan belum  alunan melodinya terdengar mulai nyaring. Sementara ketukan bas dan perkusinya mulai terdengar mengancam. Makin lama makin terdengar seperti horor. Nada dan melodinya tetep bisa diikuti, dan aku mengenali lagu itu sebagai lagu anak-anak. Tapi tetap aja jadi suara-suara yang terdengar seram dan mengancam. Aduh duh duh duh, rasanya mulai deh, badan nggak bisa digerakin, mau melek pun beraaat sekali rasanya. Sementara mau bernafas juga susah. Mau manggil-manggil istriku juga kelu rasanya. Yup, inilah fase semi-akut dari beberapa tahapan tindisan, halah!

Nunggu Iyut datang dan buka pintu rasanya lamaa bangeet! Sementara terus berjuang untuk sekedar terbangun. Sekarang, pas nulis blog ini jadi bertanya-tanya juga, apa sih yang menyebabkan tindisan? Rasanya tidak melakukan hal-hal yang tercela, ataupun yang anonoh. Lha kok tetep kebagian tindisan? Apa prosesnya seperti mimpi juga ya? Sesuatu yang muncul dari bawah sadar kita lalu menjelma seolah-seolah nyata, ditambah menyeramkan. Kalau kata pak ustad dulu sih bisa jadi karena saat tidur kepala kita nggak menghadap kiblat [emang sih, tengkurep membujur ke timur]. Haduh, masak karena itu ya? Seingatku sih gara-gara malam sebelumnya nonton VCD Silent Hill. Sepertinya itu deh yang jadi penyebab tindisen kali ini. Humpfh!Endingnya, akhirnya bisa terbangun dan bebas dari tindisen waktu denger Iyut buka pintu. Haaah, lega rasanya. Istriku penyelamatku.

Duh, duh, duh, baru kali ini kejadian lagu nina bobok anak-anak yang harusnya lembut dan melenakan jadi suara horor yang sangat mengancam.

Comments

kalo mau yg rasional sih mungkin itu karena peredaran darah yg nggak lancar ri.. masuk akal kan, wong kamu tidurnya sambil mengkurep :D

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .